Konflik Iran telah memukul hampir seluruh kelas aset dalam beberapa pekan terakhir, tapi dua aset justru bergerak berlawanan arah dari mayoritas pasar: Bitcoin naik 8,68 persen dan Ethereum naik 17,26 persen dalam periode yang sama, menurut data Google Finance.
Di sisi yang melemah, perak mencatat performa terburuk dengan penurunan lebih dari 20 persen sejak konflik dimulai. IHSG menyusul dengan koreksi 13,41 persen, angka yang mencerminkan tekanan nyata ke pasar saham domestik akibat kombinasi sentimen global dan dampak konflik terhadap harga komoditas. Emas, yang secara historis dianggap sebagai aset pelindung di masa krisis, justru turun 12,22 persen. S&P 500 terkoreksi 5,61 persen.
Pola ini menarik karena membalik narasi yang sudah berlaku puluhan tahun: bahwa investor lari ke emas saat konflik meningkat. Data kali ini menunjukkan sebagian pelaku pasar mulai memandang Bitcoin dan Ethereum sebagai alternatif penyimpan nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, meski narasi ini masih diperdebatkan di kalangan analis.
Bagi investor Indonesia, angka IHSG minus 13 persen bukan sekadar statistik. Ini berarti portofolio saham domestik mengalami tekanan signifikan dalam waktu singkat, sementara mereka yang memiliki alokasi di aset kripto justru mencatat keuntungan di periode yang sama. Apakah ini pergeseran struktural dalam perilaku investor global, atau hanya anomali satu siklus konflik, masih terlalu dini untuk disimpulkan.