Iran resmi memberikan akses bebas kepada kapal-kapal Spanyol untuk melintas di Selat Hormuz, menyusul keputusan Madrid yang menolak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Spanyol untuk operasi melawan Iran. Langkah ini dikonfirmasi pada 24 Maret 2026, menjadikan Spanyol bagian dari kelompok negara yang Teheran anggap tidak bermusuhan.
Menurut Reuters dan Financial Times, Iran telah resmi menginformasikan kepada Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal dari negara yang tidak mendukung operasi militer AS dan Israel diizinkan melintas, selama mematuhi aturan keamanan yang ditetapkan Teheran. Turki, India, Pakistan, Rusia, dan China sudah lebih dulu masuk daftar negara yang mendapat izin serupa.
Selat Hormuz adalah jalur tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas kapal tanker di selat ini anjlok drastis dan mendorong harga minyak Brent melonjak ke atas US$100 per barel. Sistem izin lintas yang kini dibangun Iran secara efektif menempatkan Teheran sebagai penjaga gerbang energi global, dengan kekuatan menentukan negara mana yang bisa mengakses pasokan minyak kawasan dan mana yang tidak.
Bagi Indonesia sebagai negara importir energi, dinamika ini berdampak langsung ke biaya impor minyak, tekanan terhadap Rupiah, dan prospek inflasi domestik. Selama Iran mempertahankan kendali selat dan kapal AS serta Israel tetap diblokir, ketidakpastian di pasar energi global belum akan mereda dalam waktu dekat.