Departemen Keuangan AS pada Kamis (26/3) mengumumkan bahwa tanda tangan Presiden Donald Trump akan muncul di seluruh uang kertas dolar AS, menjadikannya presiden aktif pertama dalam sejarah yang namanya tercetak di mata uang Amerika. Langkah ini memutus tradisi 165 tahun di mana uang kertas AS selalu memuat tanda tangan Bendahara AS dan Menteri Keuangan sejak pertama kali dicetak pada 1861.
Tanda tangan Trump akan menggantikan posisi Bendahara AS dan tampil berdampingan dengan tanda tangan Menteri Keuangan Scott Bessent. Uang kertas pecahan US$100 dengan desain baru ini mulai diproduksi pada Juni 2026, diikuti pecahan lain di bulan-bulan berikutnya. Bessent menyebut langkah ini untuk menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS pada 4 Juli 2026. Sementara itu, Biro Cetak dan Ukir AS masih memproduksi uang kertas bertanda tangan pejabat era Joe Biden, yaitu Janet Yellen dan Lynn Malerba.
Ini bukan satu-satunya upaya pemerintahan Trump menempatkan namanya di simbol negara. Komisi seni federal juga telah menyetujui desain koin emas 24 karat bergambar Trump untuk peringatan yang sama. Sebelumnya, nama Trump sudah terpasang di Kennedy Center, Institut Perdamaian AS, dan kelas kapal perang baru Angkatan Laut. Upaya memasang wajah Trump di koin reguler US$1 sempat terhambat karena hukum federal melarang gambar orang yang masih hidup muncul di koin AS.
Langkah ini menuai kritik dari Partai Demokrat di Kongres, yang telah mengajukan rancangan undang-undang untuk melarang presiden aktif atau mantan presiden yang masih hidup ditampilkan di mata uang AS dalam bentuk apapun. Michael Bordo, Direktur Pusat Sejarah Moneter dan Keuangan di Rutgers, menilai langkah ini pasti memicu reaksi politik, tetapi secara hukum Menteri Keuangan kemungkinan memiliki wewenang untuk menentukan siapa yang menandatangani mata uang.