Pertamina menaikkan harga seluruh BBM nonsubsidi per 1 Maret 2026. Pertamax naik Rp500 dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, sementara Dexlite melonjak Rp950 dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter. Pertamina Dex mencatat kenaikan terbesar, naik Rp1.000 menjadi Rp14.500 per liter. Pertalite dan solar subsidi masih ditahan di harga lama, masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter, tapi tekanan fiskal pada anggaran negara terus membesar seiring lonjakan harga minyak global pasca pecahnya konflik Iran pada akhir Februari.
Kenaikan BBM bukan sekadar soal isi tangki. Energi memengaruhi sekitar sepertiga komponen inflasi Indonesia, artinya kenaikan harga di pompa bensin merembet ke harga bahan pokok, ongkos transportasi, dan biaya produksi. Dampak ini terasa lebih berat di wilayah luar Jawa yang harga BBM nonsubsidinya lebih tinggi. Di Riau misalnya, Pertamax sudah Rp12.900 per liter dan Dexlite Rp14.800.
Data kepercayaan konsumen menunjukkan tren pelemahan. Indeks Keyakinan Konsumen BI turun ke 125,2 pada Februari 2026 dari 127,0 di Januari, dengan penurunan terbesar pada ekspektasi pendapatan enam bulan ke depan yang turun 5,3 poin dan ekspektasi ketersediaan lapangan kerja yang turun 3,4 poin. Angka Maret belum dirilis, namun analis memperkirakan penurunan berlanjut sejalan dengan gejolak global.
Dengan harga minyak dunia yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda sepanjang Maret, BBM nonsubsidi pada 1 April diperkirakan kembali naik. Bagi kamu sebagai investor, perhatikan efek rantai ini: BBM naik mendorong inflasi naik, inflasi naik membuat Bank Indonesia sulit menurunkan suku bunga, dan suku bunga yang tetap tinggi menekan Rupiah serta aset berisiko termasuk kripto.
Melansir Bisnis.com – Berita Terbaru Bisnis, Ekonomi, Investasi Indonesia , Kompas, CNBC Indonesia, dan data Bank Indonesia.