Pejabat pemerintah AS dan analis Wall Street mulai serius memperhitungkan kemungkinan harga minyak melonjak ke US$200 per barel jika Selat Hormuz tetap tertutup, melansir Bloomberg. Harga minyak mentah Brent saat ini bertahan di kisaran US$116 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$108, dan untuk produk olahan seperti solar dan bahan bakar jet, harga efektif sudah sempat menembus US$200 per barel.
Dalam wawancara dengan lebih dari 36 pelaku industri minyak dan gas, mulai dari pedagang, eksekutif, hingga penasihat, Bloomberg menemukan satu pesan yang berulang: dunia belum sepenuhnya memahami betapa parahnya situasi saat ini. Banyak yang membandingkan kondisi ini dengan krisis minyak 1970-an. Dampaknya sudah terasa di lapangan. Beberapa negara Asia sudah merasionalisasi bahan bakar, Pakistan meminta warga menonton kriket dari rumah untuk menghemat bahan bakar, ratusan SPBU di Australia melaporkan kekurangan stok, dan Korea Selatan membatasi ekspor nafta selama 5 bulan. Eropa berisiko mengalami kelangkaan solar dalam beberapa minggu ke depan.
Macquarie Group memperkirakan peluang 40 persen bahwa perang berlanjut hingga Juni. Dalam skenario itu, harga minyak harus naik cukup tinggi untuk memaksa dunia mengurangi konsumsi secara drastis. Bloomberg Economics memproyeksikan bahwa di level US$170 per barel, dampak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi akan berlipat ganda, menciptakan kondisi stagflasi yang bisa mengubah arah kebijakan bank sentral di seluruh dunia.
Bitcoin di kisaran US$66.000, masih tertekan oleh ketidakpastian geopolitik. Jika minyak benar-benar mendekati US$200 per barel, rantai dampaknya akan menghantam setiap kelas aset. Inflasi global akan melonjak, bank sentral termasuk The Fed dan Bank Indonesia akan dipaksa memperketat kebijakan, dan pertumbuhan ekonomi melambat secara bersamaan. Bagi investor, ini adalah skenario stagflasi klasik di mana tidak ada tempat aman. Aset berisiko seperti kripto dan saham tertekan oleh suku bunga tinggi, sementara obligasi juga merugi karena inflasi. Emas dan komoditas energi menjadi satu-satunya kelas aset yang diuntungkan dalam skenario ini.