Dunia sedang menyaksikan 48 jam paling menentukan sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Dua jalur yang saling bertentangan berjalan bersamaan: negosiasi gencatan senjata 45 hari di satu sisi, dan ancaman eskalasi total di sisi lain. Tidak ada jalan tengah.
AS dan Iran, melalui sekelompok mediator regional, sedang membahas kerangka gencatan senjata dua fase. Fase pertama berupa jeda pertempuran 45 hari dengan langkah-langkah parsial dari kedua pihak soal Selat Hormuz dan uranium yang diperkaya. Fase kedua berupa negosiasi penghentian perang permanen. Namun empat sumber AS, Israel, dan regional yang mengetahui pembicaraan menyebut peluang kesepakatan dalam 48 jam “tipis.” Upaya ini disebut sebagai “usaha terakhir” untuk mencegah eskalasi dramatis, melansir Axios.
Di saat yang sama, IRGC justru memperingatkan bahwa fase berikutnya operasi militer Iran akan “jauh lebih menghancurkan dan meluas.” Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, menyatakan Iran akan melancarkan serangan yang “lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif” dengan kerugian musuh yang akan “berlipat ganda.” IRGC sudah membuktikan ancaman ini bukan retorika kosong dengan menyerang fasilitas petrokimia di Kuwait, Bahrain, dan UEA pada hari Minggu, melansir pernyataan resmi IRGC yang disiarkan IRIB dan dikutip Tribune India.
Posisi Iran sangat jelas dan tidak bergeser. Selat Hormuz dan stok uranium adalah kartu tawar utama yang tidak akan diserahkan hanya untuk gencatan senjata sementara 45 hari. Iran menuntut jaminan bahwa perang benar-benar berakhir secara permanen di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, Irak, dan Yaman. Pejabat Iran secara eksplisit menyampaikan kepada mediator bahwa mereka tidak mau terjebak dalam skenario seperti Gaza atau Lebanon, di mana gencatan senjata hanya di atas kertas sementara AS dan Israel mempertahankan kemampuan untuk menyerang kembali kapan saja, melansir Axios. Ketidakpercayaan ini bukan tanpa dasar: dua kali Iran duduk di meja negosiasi dengan AS, Juni 2025 dan Februari 2026, dua kali berakhir dengan serangan militer.
Di kubu AS, Trump menetapkan deadline baru: Selasa pukul 8 PM ET. Jika Iran tidak membuka Selat Hormuz atau mencapai kesepakatan sebelum waktu itu, Trump mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik Iran. Konferensi pers Trump dengan pejabat militer dijadwalkan besok Senin pukul 1 PM ET, yang bisa menjadi momen pengumuman penting. Pasar sudah merespons: Brent melonjak ke di atas US$111 per barel, emas anjlok lebih dari 12% sejak perang dimulai, dan Bloomberg menyebut investor global dalam “posisi defensif penuh” tanpa tanda-tanda jalan keluar. Dalam hitungan jam, dunia akan tahu apakah ini menuju gencatan senjata atau eskalasi yang mengubah segalanya.