Ekonom memperkirakan tingkat inflasi bulanan AS untuk Maret naik sebesar 1%, kenaikan satu bulan tertajam sejak 2022. Melansir Bloomberg, lonjakan ini didorong oleh harga bensin yang naik sekitar US$1 per galon sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari. Data resmi dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) akan dirilis pada 10 April.
Harga minyak mentah Brent melonjak dari sekitar US70 per barel sebelum perang ke kisaran US112 per barel, seiring penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memotong sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Kenaikan harga energi ini diperkirakan mulai menyebar ke sektor lain. Commerzbank memproyeksikan harga tiket pesawat bisa naik hingga 20% akibat lonjakan biaya bahan bakar jet, sementara harga chip komputer dan logam industri juga mulai terkerek naik.
Sebagai perbandingan, inflasi Februari tercatat 2,4% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan, sementara inflasi inti (tidak termasuk energi dan pangan) berada di 2,5%, level terendah dalam hampir lima tahun. Angka-angka ini sempat memberi harapan bahwa tekanan harga mulai mereda. Namun Commerzbank memperingatkan bahwa era penurunan inflasi kemungkinan sudah berakhir, dengan proyeksi inflasi bisa naik ke 3,3% di Maret dan mendekati 4% dalam beberapa bulan ke depan jika perang berlanjut hingga akhir Mei.
Lonjakan inflasi ini menempatkan The Fed dalam dilema besar. Di satu sisi, inflasi yang kembali melonjak membuat pemangkasan suku bunga semakin sulit dijustifikasi. Di sisi lain, ekonomi AS sudah menghadapi tekanan dari tarif impor dan melemahnya daya beli konsumen. Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga baru akan terjadi paling cepat Juli atau September 2026. Bagi investor global termasuk pemegang Bitcoin, skenario suku bunga tinggi lebih lama menjadi tekanan tambahan yang signifikan di tengah ketidakpastian geopolitik.