Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi menyatakan 18 perusahaan teknologi dan keuangan AS sebagai “target sah” yang akan diserang sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin Iran oleh AS dan Israel. Daftar target mencakup Apple, Microsoft, Google, Meta, Nvidia, Tesla, Boeing, JPMorgan, Intel, IBM, Dell, Oracle, Cisco, HP, Palantir, GE, serta Spire Solutions dan G42 dari UEA. Serangan dijadwalkan dimulai pukul 20:00 waktu Iran pada 1 April, dan IRGC memperingatkan karyawan untuk segera meninggalkan tempat kerja serta warga dalam radius satu kilometer untuk mengungsi.
Alasan IRGC menyasar sektor teknologi bukan tanpa konteks. IRGC menyatakan bahwa perusahaan teknologi informasi dan AI Amerika merupakan elemen utama dalam merancang dan melacak target untuk operasi pembunuhan terhadap komandan Iran. Palantir sendiri mendeskripsikan konflik Iran sebagai perang besar pertama yang digerakkan oleh AI, di mana algoritma canggih memproses data dalam jumlah besar untuk mempercepat keputusan penargetan militer.
Ancaman ini bukan sekadar retorika. Pada 1 Maret 2026, drone Iran sudah menyerang tiga fasilitas Amazon Web Services, dua di UEA yang terkena langsung dan satu di Bahrain yang rusak akibat serangan di dekatnya. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan struktural, gangguan pasokan listrik, dan kerusakan tambahan akibat sistem pemadam kebakaran. Layanan perbankan, pembayaran digital, dan platform enterprise di seluruh kawasan terganggu selama berminggu-minggu.
Eskalasi ini mengancam miliaran dolar investasi AI di Timur Tengah. Microsoft telah berkomitmen US$15 miliar untuk ekspansi operasinya di UEA hingga 2029, Amazon menjanjikan US$5 miliar untuk hub AI di Riyadh, sementara Oracle, Cisco, dan Nvidia bermitra dengan OpenAI untuk membangun kampus AI di UEA. Secara global, analis memperkirakan belanja infrastruktur AI hyperscaler melampaui US$600 miliar pada 2026, dan sebagian signifikan dari investasi baru ini mengalir ke kawasan Teluk.
Bagi investor, dimensi baru konflik ini mengubah kalkulasi risiko secara fundamental. Selama sebulan pertama perang, target Iran terbatas pada instalasi militer dan terminal energi. Kini medan perang meluas ke infrastruktur teknologi sipil, mempertanyakan apakah pusat data dan kampus AI bernilai miliaran dolar di kawasan ini bisa tetap beroperasi selama konflik berlanjut.