Gencatan senjata AS-Iran belum genap 48 jam, tapi Selat Hormuz yang seharusnya jadi bukti kemenangan Trump justru masih nyaris tertutup.
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum genap 48 jam, tapi Trump sudah kehilangan kesabaran. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump menyatakan Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam membuka Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak, dan menegaskan ini bukan bagian dari kesepakatan yang telah disetujui.
Kenyataan di lapangan memang jauh dari gambaran yang dijual Trump sebagai kemenangan total. CEO Abu Dhabi National Oil Company Sultan Ahmed Al Jaber menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak benar-benar terbuka, akses masih dibatasi dan dikontrol Iran, dan kapal yang ingin melintas harus meminta izin terlebih dahulu. Sebelum perang, lebih dari 20 juta barel minyak melintas setiap hari. Kini hanya segelintir kapal yang berhasil lewat.
Iran Justru Berencana Pungut Tarif di Hormuz
Iran bahkan dikabarkan berencana memungut tarif $1 per barel minyak dari setiap kapal yang melintas, dibayar dalam mata uang kripto. Trump langsung memperingatkan Iran untuk segera menghentikan rencana tersebut. Sementara pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyebut Selat Hormuz akan memasuki “fase baru” dalam negosiasi mendatang, sinyal bahwa Iran tidak berniat menyerahkan kendali penuh atas jalur itu begitu saja.
Dampak ke Pasar Energi dan Kripto
Bagi pasar energi dan kripto, kebuntuan ini berarti satu hal: ketidakpastian belum selesai. Harga minyak kembali mendekati $100 per barel pada Kamis sore seiring cemasnya investor bahwa aliran energi global belum pulih. Bitcoin ikut tertekan di kisaran $66.500, dengan negosiasi langsung AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini menjadi penentu arah pasar berikutnya.