Upaya perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa hasil. Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad, Pakistan, pada Minggu dini hari setelah perundingan maraton selama 21 jam bersama delegasi Iran dan mediator Pakistan gagal menghasilkan satu pun poin kesepakatan. Setelah Vance terbang pulang, Presiden Donald Trump langsung membagikan artikel yang menguraikan opsi berikutnya: blokade laut untuk memutus ekspor minyak Iran sepenuhnya.
Ini bukan sekadar gertakan. Dua gugus kapal induk AS, USS Gerald Ford dan USS Abraham Lincoln, sudah berada di kawasan Teluk Persia. Para pakar pertahanan yang dikutip Fortune menyebut blokade efektif membutuhkan garis pertahanan maritim sepanjang lebih dari 320 kilometer di Teluk Oman, menggunakan kombinasi kapal perang, pesawat, dan drone. Targetnya adalah ekspor minyak Iran yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Teheran, sekaligus menekan dua pembeli terbesar minyak Iran: China dan India.
Trump pernah memainkan kartu yang sama sebelumnya. Sebelum menggulingkan Nicolas Maduro di Venezuela, blokade laut AS berhasil melumpuhkan perekonomian negara itu dengan memotong pendapatan ekspor minyaknya. Strategi yang sama kini sedang dipertimbangkan untuk Iran, dengan kondisi geopolitik yang jauh lebih kompleks dan taruhan yang jauh lebih besar bagi pasar energi global.
Iran tidak tinggal diam. Kedutaan besar Iran menyebut blokade laut sebagai “kartu yang kalah” dan memperingatkan konsekuensi lebih luas jika langkah itu diambil, termasuk gangguan lebih parah pada Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak global. Selat Hormuz sendiri sampai hari ini masih tertutup bagi kapal-kapal AS dan sekutunya, mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang biasanya melintas setiap harinya.
Bagi investor Indonesia, rantai dampaknya langsung terasa. Harga minyak Brent yang sudah bertahan di atas 100 dolar per barel berpotensi naik lebih lanjut jika eskalasi berlanjut, menambah tekanan pada subsidi BBM dan anggaran negara. Rupiah yang sudah tertekan sejak konflik ini dimulai akan menghadapi ujian lebih berat. Dan untuk pasar crypto, perpanjangan ketidakpastian geopolitik ini memperumit proyeksi inflasi global, mempersempit ruang The Fed untuk memangkas suku bunga karena hal itu menjadi salah satu katalis utama yang ditunggu pasar.