Sejak Satoshi Nakamoto menambang blok pertama Bitcoin pada 3 Januari 2009, jaringan ini telah memproses lebih dari $125 triliun dalam total transaksi on-chain, tanpa satu bank pun yang terlibat, tanpa formulir, tanpa antrian, dan tanpa jam tutup. Data Glassnode yang dikutip CryptoSlate menunjukkan angka kumulatif ini menembus $125 triliun pada Agustus 2024, naik dari $114 triliun di awal tahun yang sama.
Sebagai perbandingan, Dana Moneter Internasional mencatat produk domestik bruto seluruh dunia pada 2024 sekitar $110 triliun. Artinya total nilai yang pernah berpindah lewat jaringan Bitcoin sudah melampaui output ekonomi seluruh planet bumi dalam satu tahun penuh. Semua itu diproses oleh kode komputer yang berjalan di ribuan node tersebar di seluruh dunia, bukan oleh institusi keuangan manapun.
Pada Mei 2024, jaringan Bitcoin mencapai tonggak sejarah lain: total satu miliar transaksi berhasil diproses sejak pertama kali berdiri, dengan rata-rata 178.475 transaksi per hari sepanjang hidupnya, menurut data yang dikutip Nasdaq. Tidak ada downtime, tidak ada bailout, dan tidak ada kebijakan yang berubah di tengah jalan karena tekanan politik atau krisis keuangan.
Yang membuat angka ini lebih bermakna adalah konteksnya. Setiap transaksi terjadi langsung antara pengirim dan penerima, melewati batas negara, zona waktu, dan regulasi perbankan konvensional. Tidak ada pihak ketiga yang bisa membekukan dana, menolak transfer, atau meminta dokumen tambahan. Bagi investor, ini bukan sekadar statistik teknis, ini adalah bukti nyata bahwa infrastruktur keuangan alternatif sudah bekerja dalam skala global selama lebih dari satu dekade.