CEO Ripple Brad Garlinghouse menyebut jendela peluang untuk meloloskan CLARITY Act kini terbuka dan industri crypto harus bergerak sekarang. Pernyataan ini disampaikan di acara Semafor World Economy pada 13 April, di mana Garlinghouse menunjuk negosiasi yang sedang berlangsung antara bank dan perusahaan crypto sebagai tanda bahwa kompromi sudah sangat dekat, dengan target lolos akhir Mei 2026.
CLARITY Act sudah melewati DPR AS pada Juli 2025 dan disetujui Komite Pertanian Senat pada Januari 2026. Hambatan utama yang tersisa adalah perdebatan antara bank dan perusahaan crypto soal pembatasan imbal hasil stablecoin, namun negosiator dilaporkan sudah mendekati kompromi, dengan Senator Thom Tillis diperkirakan merilis draft kompromi pekan ini. Senat AS dijadwalkan kembali membahas RUU ini pekan ini, momen yang dinantikan seluruh industri crypto global.
CEO Coinbase Brian Armstrong dilaporkan telah mencabut oposisinya terhadap RUU ini, langkah yang secara signifikan memperkuat momentum legislatif di tengah negosiasi yang sedang berjalan. Dengan dua perusahaan crypto terbesar AS kini berbaris di belakang RUU yang sama, tekanan politik untuk segera mengesahkan CLARITY Act mencapai titik tertingginya sejak RUU ini pertama kali diajukan.
Garlinghouse memang sudah dua kali menetapkan deadline dan meleset dari target sebelumnya. Namun arah yang ia tunjuk terus terbukti benar: oposisi yang selama ini memblokir RUU ini sebagian besar sudah menghilang, dan CLARITY Act kini memiliki dukungan terkuat sejak pertama kali lolos dari DPR. Perbedaan kali ini adalah skala dukungan yang jauh lebih luas dan tekanan pasar yang semakin mendesak kepastian regulasi.
Bagi investor crypto Indonesia, ini bukan sekadar berita regulasi dari negeri orang. Begitu CLARITY Act ditandatangani, bank dan institusi keuangan besar AS yang selama ini menunggu kepastian hukum berpotensi masuk pasar secara masif. Aliran modal institusional sebesar itu ke Bitcoin dan aset digital bisa mengubah lanskap permintaan secara fundamental, dan dampaknya akan terasa hingga ke portofolio investor retail di seluruh dunia termasuk Indonesia.