Uni Emirat Arab diam-diam membuka pembicaraan dengan Amerika Serikat soal jalur keuangan darurat. Gubernur Bank Sentral UEA Khaled Mohamed Balama mengajukan usulan swap line dolar kepada Menteri Keuangan Scott Bessent dan pejabat Federal Reserve di Washington pekan lalu, melansir Wall Street Journal. Swap line adalah fasilitas pinjaman darurat yang memberi bank sentral akses murah ke dolar untuk menstabilkan mata uang atau cadangan devisa mereka saat krisis likuiditas mengancam.
UEA menyebut langkah ini masih bersifat awal dan pencegahan. Namun di balik permintaan itu ada tekanan nyata. Perang Iran telah merusak infrastruktur minyak dan gas UEA, memutus kemampuan mereka menjual minyak lewat Selat Hormuz, dan memicu risiko pelarian modal dari negara yang selama ini dikenal sebagai pusat keuangan global yang stabil. Sebelum gencatan senjata berlaku 17 April, Iran menembakkan lebih dari 2.800 drone dan rudal ke wilayah UEA, meski sebagian besar berhasil ditembak jatuh.
Yang membuat permintaan ini jauh lebih serius adalah ancaman tersirat di baliknya. Pejabat UEA secara eksplisit memberi tahu AS bahwa jika cadangan dolar mereka menipis, mereka mungkin terpaksa beralih ke yuan China atau mata uang lain untuk transaksi minyak. Ini adalah ancaman langsung terhadap dominasi petrodolar, sistem di mana dolar AS digunakan hampir eksklusif dalam perdagangan minyak global sejak 1974, dan menjadi salah satu fondasi utama kekuatan dolar sebagai mata uang cadangan dunia.
AS sendiri belum memberikan lampu hijau. Fed kemungkinan tidak akan menyetujui swap line untuk UEA karena biasanya hanya diberikan ke negara dengan ikatan kuat ke pasar AS seperti Inggris, Jepang, dan Uni Eropa. Namun Kementerian Keuangan AS punya jalur alternatif lewat Exchange Stabilization Fund, jalur yang sama yang digunakan untuk memberikan swap $20 miliar ke Argentina tahun lalu.
Bagi pasar crypto, skenario ini punya dua sisi. Erosi dominasi dolar secara historis mendorong minat ke aset alternatif termasuk Bitcoin. Namun ketidakstabilan geopolitik di Teluk juga memicu risk-off sentiment yang menekan seluruh aset berisiko dalam jangka pendek. Arab Saudi sendiri memperkirakan pemulihan logistik pengiriman tanker membutuhkan waktu hingga akhir Juni, bahkan jika perang berhenti hari ini.