Angkatan Laut AS menyita kapal kargo berbendera Iran, TOUSKA, di Teluk Oman pada Minggu (19/4) setelah kapal tersebut mencoba menembus blokade maritim AS. Kapal destroyer USS Spruance menembak ruang mesin TOUSKA menggunakan meriam MK 45 setelah peringatan selama enam jam diabaikan, sebelum pasukan Marinir dari 31st Marine Expeditionary Unit naik dan mengambil alih kendali kapal beserta seluruh muatannya.
TOUSKA menjadi kapal pertama yang nekat melawan blokade AS sejak diberlakukan pekan lalu. Sebelumnya, 25 kapal lain yang dicegat armada AS di luar Selat Hormuz memilih patuh dan berbalik arah saat dihubungi awak Angkatan Laut AS. Penyitaan ini dikonfirmasi langsung oleh US Central Command, yang menyebut tindakan tersebut dilakukan secara “deliberate, professional, and proportional”, melansir The New York Times.
Trump menyebut tindakan ini sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Iran, termasuk tembakan Iran ke kapal sipil di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika kesepakatan damai tidak segera tercapai, melansir NBC News.
Di tengah eskalasi ini, Gedung Putih justru mengumumkan Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner akan berangkat ke Pakistan untuk putaran negosiasi baru dengan Iran. Gencatan senjata yang berlaku saat ini berakhir 22 April, dan Trump menyebut kemungkinan tidak akan memperpanjangnya jika pembicaraan gagal, melansir CNN.
Pasar energi kembali tertekan setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz, jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Dua sinyal berlawanan dalam satu hari, serangan militer sekaligus delegasi diplomatik, mencerminkan betapa tipisnya jarak antara gencatan senjata dan perang penuh.