Tim Cook resmi pamit dari kursi CEO Apple setelah 15 tahun memimpin, digantikan John Ternus efektif 1 September 2026. Di bawah Cook, Apple tumbuh dari valuasi 350 miliar dolar menjadi lebih dari 4 triliun dolar, kenaikan lebih dari 1.050%, melansir Apple Newsroom. Pergantian ini bukan sekadar rotasi kepemimpinan biasa. Apple tertinggal di AI, dan Ternus adalah taruhan besar mereka untuk mengejar ketinggalan.
Ternus bukan orang AI. Dia kepala hardware Apple selama 25 tahun, arsitek di balik iPhone, Mac, dan Apple Silicon. Tapi itulah justru intinya. Apple percaya AI berikutnya bukan hanya soal model bahasa di cloud, tapi soal integrasi AI langsung ke perangkat fisik. Tantangan pertama Ternus sudah menanti: Siri tertinggal jauh sampai Apple harus bayar Google 1 miliar dolar untuk integrasikan Gemini ke Siri, melansir CNBC. Tugasnya adalah memastikan iPhone 2027 tidak butuh AI orang lain lagi.
Ini bukan pergantian CEO biasa di perusahaan biasa. Google, Meta, Microsoft, dan Amazon sudah gabungkan investasi AI hingga 650 miliar dolar di 2026 saja. Semua orang terkaya di dunia taruh uangnya di tempat yang sama. Analis Wedbush memproyeksikan Apple bisa masuk “AI supercycle” dengan 325 juta iPhone siap upgrade di 2026-2027, melansir Benzinga. Tapi kalau Ternus gagal, valuasi 4 triliun dolar Apple bisa mulai goyah.
Bagi Indonesia, ini bukan isu teknologi yang jauh. Indonesia punya 77 juta pekerja di sektor paling rentan otomatisasi: pabrik, administrasi, dan layanan pelanggan. Kalau gelombang AI industri yang sedang dibangun Apple dan Big Tech AS ini benar-benar tiba, sektor-sektor tersebut yang akan merasakan dampaknya paling duluan. Pekerjaan yang hilang datang lebih cepat dari pekerjaan baru yang tercipta.
Tim Cook mewariskan Apple yang bernilai 4 triliun dolar. Tugas John Ternus adalah membuktikan angka itu bukan puncak, tapi titik awal. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah pasar kerja. Pertanyaannya adalah seberapa cepat, dan apakah kita sudah siap.