Sejumlah harga pangan strategis di pasar tradisional kompak naik pada Minggu (3/5/2026), dengan daging ayam ras segar memimpin kenaikan setelah melonjak 2,68% atau Rp1.050 menjadi Rp40.250 per kilogram. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia yang dipantau pukul 08.30 WIB, dinamika harga pangan menunjukkan pergerakan yang campuran, dengan beberapa komoditas pokok naik tipis sementara mayoritas justru mengalami koreksi signifikan.
Di kelompok beras, hanya kualitas bawah II yang mencatat kenaikan sebesar 0,69% ke Rp14.650 per kg. Sebaliknya, beras kualitas bawah I, medium I, medium II, super I, dan super II semuanya turun antara 1,86% hingga 3,13%, dengan harga beras kualitas super I tercatat di Rp16.850 per kg. Di kelompok minyak goreng, semua kategori naik tipis, dengan kemasan bermerek I memimpin dengan kenaikan 1,48% ke Rp24.050 per kg, diikuti minyak goreng curah Rp20.550 per kg dan minyak goreng kemasan bermerek II Rp22.800 per kg.
Pergerakan paling mencolok justru terjadi di kelompok cabai dan komoditas hewani. Cabai rawit hijau menjadi yang paling dalam koreksinya dengan penurunan 12,14% ke Rp43.050 per kg, diikuti cabai rawit merah yang turun 6,32% ke Rp60.000 per kg dan cabai merah keriting yang turun 6,10% ke Rp43.900 per kg. Daging sapi kualitas 1 ikut turun 3,54% ke Rp142.900 per kg, sementara telur ayam ras segar terkoreksi 2,97% ke Rp31.000 per kg. Gula pasir, bawang merah, dan bawang putih juga kompak turun di hari yang sama, masing-masing dalam kisaran 0,74% hingga 3,02%.
Salah satu komoditas yang masih naik adalah cabai merah besar dengan kenaikan 1,54% ke Rp49.500 per kg. Pergerakan campuran ini muncul di tengah momentum penting bagi pasar Indonesia, mengingat Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data inflasi April 2026 pada Senin (4/5/2026). Konsensus pasar Bloomberg memperkirakan inflasi tahunan akan turun ke 2,72% dari 3,48% di Maret, didukung oleh memudarnya efek low base dan tren harga pangan pasca-Lebaran yang mulai stabil.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, dinamika harga pangan ini punya implikasi konkret ke beberapa kelas aset. Penurunan harga di mayoritas komoditas pangan strategis menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi pasca-Lebaran mulai mereda, sebuah kondisi yang dibutuhkan Bank Indonesia untuk membuka ruang pemangkasan suku bunga acuan dalam beberapa bulan ke depan. Kalau angka inflasi April yang dirilis besok sesuai ekspektasi pasar di kisaran 2,72%, hal ini bisa menjadi katalis positif untuk IHSG dan saham-saham yang sensitif suku bunga seperti perbankan dan properti. Bagi investor crypto, ekspektasi penurunan suku bunga BI dan global tren pelonggaran moneter biasanya bullish untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah kenaikan harga daging ayam dan minyak goreng akan menjadi tren berkelanjutan, mengingat keduanya termasuk komoditas dengan bobot signifikan dalam keranjang inflasi konsumen.