Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mereview proposal damai 14 poin yang baru saja dikirim Iran lewat mediator Pakistan, namun langsung mengekspresikan keraguan bahwa proposal tersebut bisa diterima. Lewat unggahan resmi di Truth Social pada Sabtu (2/5/2026), Trump menulis bahwa pihaknya akan segera meninjau rencana yang dikirim Iran, “tapi tidak bisa membayangkan bahwa proposal itu akan dapat diterima karena mereka belum cukup membayar harga atas perbuatan mereka kepada kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir.”
Berdasarkan laporan dua kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim dan Fars, proposal 14 poin tersebut dikirim Tehran sebagai respons atas proposal 9 poin yang sebelumnya diajukan oleh AS. Iran diklaim menginginkan beberapa konsesi utama, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional, pencabutan blokade laut AS, pembayaran ganti rugi perang, dan pengembalian aset Iran yang dibekukan. Iran juga meminta jendela waktu 30 hari untuk menyelesaikan terms perjanjian damai, berbeda dengan preferensi Washington yang menginginkan masa transisi sekitar 2 bulan.
Trump berbicara kepada wartawan di Bandara Internasional Palm Beach, Florida, sebelum bertolak menuju Miami menggunakan Air Force One pada Sabtu. Saat ditanya soal proposal Iran, Trump menyatakan bahwa pihaknya baru diberi tahu mengenai konsep kesepakatan namun belum melihat redaksi final. “Mereka memberitahu saya tentang konsepnya. Mereka akan memberi saya redaksi yang persis sekarang,” kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip Al Jazeera dan CNN. Pada Jumat malam sebelumnya, Trump bahkan sempat berkomentar bahwa AS mungkin lebih baik tidak membuat kesepakatan sama sekali, sebelum menarik kembali pernyataan tersebut keesokan harinya.
Di sisi militer, situasi tetap tegang meskipun gencatan senjata sudah berjalan sejak 7 April 2026. Trump menyatakan ada “kemungkinan” serangan bisa kembali dilanjutkan jika Iran “berperilaku buruk.” Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Sabtu yang sama menyatakan tetap berada dalam status “full standby” untuk kemungkinan kembali ke pertempuran, mengutip kurangnya komitmen AS terhadap perjanjian sebelumnya. Trump juga menyatakan ingin menghapus 15% kapasitas pembuatan rudal Iran yang masih tersisa, mengindikasikan bahwa Washington masih mempertimbangkan opsi militer lanjutan.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, perkembangan ini punya implikasi konkret ke beberapa kelas aset. Penolakan atau penundaan kesepakatan damai antara AS dan Iran berpotensi menahan harga Brent crude di kisaran premium, kondisi yang sudah berlangsung sejak akhir Februari 2026 ketika perang dimulai dan Selat Hormuz ditutup. Bagi Rupiah yang sudah tertekan dolar AS yang kuat, perpanjangan ketegangan geopolitik menambah lapisan tekanan baru. Inflasi Indonesia yang baru mulai mereda pasca-Lebaran juga bisa kembali tertekan jika harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex harus disesuaikan ke atas mengikuti harga minyak global. Sementara itu, aset safe haven seperti emas dan Bitcoin biasanya menjadi tujuan investor saat ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memuncak, dengan tren yang sama berpotensi berlanjut jika kebuntuan negosiasi berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.