Pentagon resmi mengumumkan penarikan sekitar 5.000 pasukan Amerika Serikat dari Jerman pada Jumat (1/5/2026), menandai keretakan baru dalam hubungan Washington dengan salah satu sekutu utamanya di NATO. Keputusan ini diambil di tengah perselisihan tajam antara Presiden Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengenai strategi AS dalam perang Iran yang sudah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menyatakan keputusan tersebut merupakan hasil peninjauan menyeluruh terhadap postur kekuatan militer AS di Eropa. Penarikan akan dilakukan secara bertahap dalam 6 hingga 12 bulan ke depan, sesuai dengan kebutuhan teater operasi dan kondisi di lapangan. Saat ini, sekitar 38.000 pasukan AS bermarkas di Jerman, dengan Komando Eropa AS atau US European Command berpusat di Pangkalan Udara Ramstein. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tercatat sebagai pejabat yang menandatangani perintah penarikan tersebut.
Pemicu eskalasi ini adalah serangkaian pernyataan kritis Kanselir Merz dalam beberapa hari terakhir. Merz menyatakan AS sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran dalam negosiasi perang dan mengkritik kurangnya strategi yang jelas dari Washington. Ia bahkan membandingkan perang Iran dengan invasi AS sebelumnya ke Iraq dan Afghanistan, menyebutnya sebagai situasi yang rumit. Trump merespons keras lewat Truth Social, menyebut Merz tidak memahami ancaman nuklir Iran dan menyuruhnya lebih fokus mengakhiri perang Rusia-Ukraina serta memperbaiki kondisi ekonomi domestik Jerman, terutama soal imigrasi dan energi.
Reaksi politik di Washington sendiri terbelah. Senator Jack Reed dari Partai Demokrat, ranking member di Senate Armed Services Committee, mengkritik keputusan tersebut sebagai langkah keliru yang berpotensi melemahkan posisi strategis AS di Eropa di tengah serangan Rusia yang terus berlangsung di Ukraina. Bagi negara-negara Eropa lainnya, kabar ini juga menimbulkan kekhawatiran karena sebelumnya beredar laporan bahwa Trump bahkan mempertimbangkan menarik hingga 20.000 pasukan AS dari benua Eropa.
Bagi investor dan pelaku pasar, eskalasi ini punya implikasi penting ke beberapa kelas aset. Retaknya hubungan AS dengan sekutu utama NATO berpotensi memperpanjang ketidakpastian geopolitik dan memperlemah koordinasi Barat dalam menekan Iran, yang artinya konflik energi bisa berlangsung lebih lama dari ekspektasi. Harga minyak Brent yang sudah berada di level tinggi sejak penutupan Selat Hormuz berpotensi tetap tertahan di kisaran premium. Bagi Indonesia, dampaknya terasa lewat tekanan ke Rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi, dan rambatan ke inflasi yang baru mulai mereda. Sementara itu, aset safe haven seperti emas dan Bitcoin biasanya menjadi tujuan investor di tengah ketegangan geopolitik yang memburuk, dengan tren yang sama berpotensi berlanjut jika friksi AS dengan sekutu Eropa terus naik level.