Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan kemenangan militer atas Iran dalam jamuan kenegaraan bersama Raja Inggris Charles III di Gedung Putih. Bersamaan dengan klaim itu, blokade ekonomi terhadap Iran resmi diperpanjang. Kondisi ini menahan harga minyak global di level tertinggi dan memberi tekanan pada APBN Indonesia.
Klaim Kemenangan di Tengah Blokade yang Diperpanjang
Dalam state dinner di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa Iran sudah kalah secara militer, melansir CNN dan Reuters. Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan instruksi memperpanjang blokade ekonomi terhadap Iran, melansir Wall Street Journal.
Iran sebelumnya mengajukan tawaran kesepakatan dengan skema buka Selat Hormuz lebih dulu, baru kemudian negosiasi nuklir dilanjutkan. Trump menolak tawaran tersebut. Sikap ini menjadi sinyal bahwa AS belum bersedia mengendurkan tekanan, meski klaim kemenangan sudah dilontarkan ke publik.
Pasar Minyak Masih dalam Tekanan Tinggi
Brent crude diperdagangkan di kisaran $107 per barel, level tertinggi sejak 7 April. Sebanyak 38 kapal sudah diputarbalikkan AS sejak blokade dimulai, membuat lalu lintas Selat Hormuz nyaris terhenti.
Selat Hormuz adalah jalur strategis yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Setiap gangguan di jalur ini langsung berdampak ke harga energi global, termasuk harga minyak yang masuk ke Indonesia.
Tekanan Langsung ke APBN dan Konsumen Indonesia
Dampaknya paling terasa di sisi fiskal. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak $70 per barel. Dengan harga aktual di $107, selisihnya signifikan. Setiap kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) sebesar $1 menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.
Tekanan ini juga terlihat di sisi konsumen. Harga BBM industri dan non-subsidi berpotensi terus naik mengikuti pergerakan minyak global. Inflasi domestik sudah menyentuh 4,76% dibanding tahun lalu, level tertinggi dalam 3 tahun terakhir.
Yang Perlu Dipantau ke Depan
Klaim kemenangan dan blokade yang lanjut menandakan konflik AS-Iran masih jauh dari selesai. Yang patut diperhatikan adalah ketahanan ekonomi Iran tanpa ekspor minyak yang memadai, serta sikap negara-negara seperti China dan Rusia yang masih menjadi pembeli minyak Iran.
Selama Selat Hormuz belum kembali normal, harga minyak diperkirakan bertahan di level tinggi. Bagi konsumen dan investor Indonesia, ini berarti tekanan inflasi dan pelemahan rupiah akan tetap menjadi tema utama dalam beberapa bulan mendatang.