Presiden Donald Trump menolak proposal damai terbaru dari Iran pada Senin 27 April 2026, memperpanjang konflik yang sudah berjalan dua bulan. Selat Hormuz masih lumpuh dengan hanya 7 kapal melintas per 24 jam, harga minyak tetap tinggi, dan Rupiah pagi ini diperdagangkan di Rp17.265 per dolar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung dua bulan. Penolakan ini meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat dan memperpanjang ketidakpastian di pasar minyak global.
Sikap Trump muncul setelah pertemuannya dengan para penasihat di Gedung Putih pada Senin 27 April 2026. Juru bicara Gedung Putih menyatakan AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan sudah memiliki garis merah yang jelas dalam upaya mengakhiri konflik dengan Iran yang dimulai sejak Februari 2026 bersama Israel.
Inti Perbedaan: Soal Nuklir
Melansir Reuters lewat Kontan, proposal Iran mengusulkan tahapan perundingan yang dimulai dari penghentian perang dan pembukaan kembali jalur perdagangan, sebelum akhirnya membahas isu nuklir. Pendekatan bertahap ini menjadi titik kebuntuan utama. Washington menegaskan isu nuklir harus jadi bagian utama perundingan sejak awal, bukan ditunda sampai perang berakhir.
Posisi Iran cukup terang. Mereka ingin menyelesaikan masalah operasional terlebih dahulu seperti gencatan senjata dan sengketa pelayaran di Teluk, sebelum masuk ke isu paling sensitif. Sementara AS berpegang pada prinsip bahwa pencegahan Iran punya senjata nuklir adalah inti dari seluruh konflik, sehingga tidak bisa ditunda.
Upaya diplomasi sebelumnya juga belum membuahkan hasil. Rencana kunjungan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad dibatalkan, sehingga momentum perundingan kembali tertunda. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi terus melakukan diplomasi ke sejumlah negara termasuk Pakistan, Oman, dan Rusia, serta bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin.
Selat Hormuz Masih Lumpuh
Konsekuensi paling konkret dari kebuntuan ini terjadi di Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilintasi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sekitar 7 kapal melintas dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang mencapai 125 sampai 140 kapal per hari.
Penurunan ini setara hampir 95 persen dari kapasitas normal. Beberapa tanker minyak Iran bahkan terpaksa berbalik arah akibat blokade laut yang dijalankan AS sejak 13 April 2026. Iran mengecam tindakan penyitaan kapal oleh AS sebagai bentuk perompakan di laut lepas, sementara AS terus memperketat enforcement maritim untuk menekan pendapatan minyak Iran.
Seorang analis pasar yang dikutip Reuters menyebut, pelaku pasar kini lebih memperhatikan aliran fisik minyak daripada pernyataan politik. Artinya, selama jumlah kapal yang melintas Hormuz belum kembali normal, harga minyak akan tetap tinggi terlepas dari narasi gencatan senjata atau negosiasi yang mungkin disampaikan kedua belah pihak.
Pasar Bereaksi: Dolar Kuat, Rupiah Tertekan
Reaksi pasar global terhadap kebuntuan ini cukup terlihat. Pagi ini, Selasa 28 April 2026, Rupiah diperdagangkan di sekitar Rp17.265 per dolar AS, melemah 0,25 persen. Harga emas dunia tetap stabil tinggi di kisaran Rp2.814.000 per gram karena pasar masih menunggu kejelasan negosiasi AS-Iran. IHSG juga ikut tertekan di level 7.096.
Pelemahan Rupiah hari ini melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sepanjang April. Pekan lalu Rupiah sempat menyentuh Rp17.312 per dolar, posisi terlemah sepanjang sejarah dan paling jeblok di antara mata uang Asia berkembang. Bank Indonesia sudah aktif melakukan intervensi pasar valuta asing dengan cadangan devisa 148,2 miliar dolar AS untuk menahan tekanan ini.
Tekanan ke Rupiah datang dari kombinasi tiga faktor: dolar yang menguat sebagai safe haven, harga minyak yang tetap tinggi karena Hormuz belum normal, dan capital outflow dari pasar negara berkembang menuju aset aman. Baht Thailand pagi ini juga tercatat sebagai mata uang Asia dengan pelemahan terdalam, menunjukkan tekanan ini bukan masalah Indonesia saja.
Dampak Berlapis ke Ekonomi Indonesia
Buat ekonomi Indonesia, perpanjangan konflik ini punya konsekuensi yang sudah mulai terasa di beberapa sisi.
Pertama, anggaran subsidi energi membengkak. Pertamina membeli minyak mentah dalam dolar, sementara harga Brent crude tetap di kisaran tinggi akibat gangguan Hormuz. Anggaran subsidi energi 2026 sekitar Rp394 triliun berisiko bengkak puluhan triliun jika kondisi ini berlanjut sampai akhir tahun. Pemerintah punya pilihan sulit: tambah utang untuk menutup subsidi atau menyesuaikan harga BBM dan tarif listrik.
Kedua, harga barang impor naik bertahap. Indonesia banyak impor gandum, susu, daging, kedelai, dan komponen elektronik dalam dolar. Setiap pelemahan Rupiah 1 persen biasanya mendorong harga barang impor naik dengan lag beberapa minggu. Roti, mie instan, susu UHT, dan produk olahan lainnya berpotensi terkerek 5 sampai 10 persen dalam beberapa bulan ke depan.
Ketiga, beban utang dolar perusahaan membengkak. Total utang luar negeri Indonesia tercatat sekitar 427 miliar dolar AS per Februari 2026, sebagian besar dipegang BUMN besar seperti Pertamina, PLN, Garuda, dan korporasi swasta. Setiap kenaikan kurs membengkakkan nilai cicilan dolar dalam Rupiah, dan beban ini biasanya berakhir di harga produk akhir yang dibayar konsumen.
Keempat, biaya pinjaman tetap mahal. Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 4,75 persen untuk menjaga Rupiah. Selama tekanan dari geopolitik dan dolar kuat belum mereda, BI kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga, sehingga KPR, KKB, dan pinjaman modal kerja UMKM tetap berada di level tinggi.
Tekanan Politik di Dalam Negeri AS
Yang menarik, kebuntuan ini juga membawa tekanan politik untuk Trump sendiri. Konflik yang sudah berjalan dua bulan tanpa titik terang mulai mengikis tingkat persetujuan publik terhadap kepemimpinannya. Beberapa tokoh politik AS termasuk Senator Jack Reed dari Komite Angkatan Bersenjata sudah menyuarakan kekhawatiran soal pemborosan stok amunisi yang dipakai dalam perang ini.
Menurut analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS sudah menggunakan hampir setengah stok rudal pencegat Patriot dan sekitar 30 persen stok rudal jelajah Tomahawk dalam 38 hari pertama perang. Pemulihan stok ini diperkirakan butuh 1 sampai 4 tahun. Ini menempatkan Trump dalam posisi sulit: melanjutkan tekanan militer ke Iran berarti terus menguras stok senjata strategis, sementara menerima proposal Iran yang menunda nuklir berarti dianggap menyerah pada tujuan utama perang.
Apa yang Harus Diperhatikan ke Depan
Ada beberapa peristiwa kunci yang akan menentukan arah konflik ini dalam beberapa pekan ke depan. Pertama, apakah Iran akan menyusun proposal baru yang lebih sesuai dengan tuntutan AS soal nuklir, atau tetap berpegang pada pendekatan bertahap. Kedua, apakah blokade laut AS terhadap Iran akan diperpanjang atau diperketat lagi, mengingat Trump sudah memerintahkan Angkatan Laut untuk menembak kapal apapun yang mencoba meletakkan ranjau di Hormuz.
Ketiga, perlu dipantau apakah negara-negara perantara seperti Pakistan, Oman, dan Qatar bisa membuka jalur komunikasi baru. Keempat, kondisi pasar minyak global. Jika Hormuz tetap lumpuh sampai paruh kedua 2026, banyak analis memperkirakan Brent crude bisa kembali tembus 110 sampai 120 dolar per barel, level yang akan memberi tekanan inflasi serius ke seluruh ekonomi global.
Buat investor Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa volatilitas geopolitik kini menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar, bukan lagi data ekonomi domestik semata. Diversifikasi ke aset safe haven seperti emas dan Bitcoin menjadi semakin relevan bagi banyak investor global, sementara Bank Indonesia kemungkinan harus terus aktif menjaga stabilitas Rupiah selama kondisi ini berlanjut.