Pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap tiga bursa mata uang Iran dan satu terminal minyak yang berbasis di China pada Jumat (1/5/2026), menandai eskalasi terbaru tekanan ekonomi AS terhadap Teheran. Langkah ini diambil seiring upaya Washington memaksa Iran mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik dimulai.
Departemen Keuangan AS dalam pernyataan resminya menyebut tiga bursa mata uang Iran tersebut terbukti membantu mencuci miliaran dolar hasil penjualan minyak Teheran, sebagian besar dikonversi dari yuan China ke mata uang legal lainnya. Selain itu, AS juga memasukkan Qingdao Haiye Oil Terminal Co yang berbasis di China ke dalam daftar hitam, dengan tuduhan menggunakan praktik pengiriman menipu untuk mengimpor puluhan juta barel minyak mentah Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan pemerintah akan terus mengejar siapa pun yang memfasilitasi upaya Iran menghindari sanksi.
Penargetan terhadap entitas China ini menyoroti bagaimana kampanye tekanan Washington telah meluas melampaui Iran ke pihak-pihak yang membeli minyaknya. Pekan lalu, AS sudah mengumumkan sanksi terhadap salah satu penyuling swasta terbesar China atas hubungannya dengan Teheran. Bank-bank juga diperingatkan berisiko terkena sanksi sekunder jika mendukung penyuling independen China yang membeli minyak Iran. AS bahkan menerbitkan peringatan tambahan bahwa pengirim barang dapat melanggar sanksi jika membayar biaya tol kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz, terlepas dari apakah pembayaran dilakukan via mata uang biasa, aset digital, pertukaran informal, atau sumbangan ke Palang Merah Iran.
Iran lewat Garda Revolusi membantah dan menegaskan Selat Hormuz akan tetap menjadi sumber penghidupan rakyat Iran. Pernyataan tersebut disampaikan melalui Islamic Republic of Iran Broadcasting yang dikelola negara. Sementara itu, blokade laut AS telah membatasi kemampuan Teheran mengekspor minyak mentah, memotong sumber pendapatan utama bagi salah satu produsen OPEC terbesar tersebut. Akibatnya, menurut data Kpler, Iran dengan cepat kehabisan kapasitas penyimpanan dan menghadapi risiko pemotongan produksi yang dipercepat.
Bagi investor Indonesia, eskalasi tekanan AS ini punya implikasi langsung ke pasar. Sanksi terhadap pembeli minyak Iran berpotensi memperpanjang gangguan pasokan global yang selama ini menahan harga Brent di level tinggi. Dampak rambatannya terasa di Rupiah yang sudah tertekan, kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex yang sudah menyesuaikan ke atas pada April lalu, hingga tekanan ke inflasi yang baru mulai mereda. Aset safe haven seperti emas dan Bitcoin biasanya menjadi tujuan investor di tengah ketidakpastian geopolitik yang memburuk seperti ini, dan tren yang sama berpotensi berlanjut jika tensi AS-Iran-China terus naik level.