Warren Buffett menyatakan bahwa Berkshire Hathaway akan mengerahkan cadangan kasnya jika terjadi penurunan pasar yang besar. Melansir CNBC, dalam wawancara di acara Squawk Box, Buffett menjelaskan bahwa Berkshire akan menggunakan kasnya ketika saham atau bisnis terlihat menarik, dengan catatan bahwa mereka tidak berencana menjual aset tersebut dalam waktu dekat.
Berkshire saat ini memegang sekitar US$373 miliar dalam kas dan obligasi jangka pendek, posisi terbesar dalam sejarah perusahaan manapun di dunia. Minggu lalu saja, Berkshire membeli US$17 miliar obligasi AS. Selama bertahun-tahun, Buffett dikritik karena menimbun kas terlalu banyak saat pasar terus naik. Tapi di tahun 2026, keputusan itu terbukti tepat. S&P 500 sudah turun sekitar 11% sepanjang tahun akibat perang Iran-AS dan ketidakpastian global, sementara saham Berkshire justru naik sekitar 12%.
Buffett juga menyampaikan kekhawatirannya soal posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia. Ia menyebut tidak ingin melihat apapun yang mengancam status tersebut. Kekhawatiran ini menjadi sangat relevan di tengah data terbaru yang menunjukkan bank sentral asing memangkas kepemilikan obligasi AS sebesar US$82 miliar dalam sebulan ke level terendah sejak 2012, sebagian besar untuk menopang mata uang lokal mereka yang tertekan akibat lonjakan harga energi.
Fakta bahwa Buffett masih menahan sebagian besar kasnya dan belum melakukan akuisisi besar memberikan sinyal penting bagi pelaku pasar. Jika investor dengan rekam jejak terpanjang di dunia masih menunggu harga yang lebih murah, ada kemungkinan pasar belum menyentuh titik terendahnya. S&P 500 yang sudah turun 11% mungkin belum cukup menarik bagi standar Buffett.
Bagi investor crypto, pesan ini layak dicermati. Bitcoin di kisaran US$66.500 menghadapi tekanan yang sama dari ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar. Jika koreksi pasar saham berlanjut lebih dalam dan Buffett mulai menggunakan kasnya secara agresif, itu bisa menjadi penanda bahwa titik terendah sudah dekat, dan sentimen pemulihan bisa menjalar ke seluruh kelas aset termasuk crypto.
Melansir CNBC