Inflasi inti Tokyo untuk Maret 2026 turun ke 1,7% secara tahunan, melambat dari 1,8% di Februari dan di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan angka tetap di 1,8%. Ini merupakan kenaikan tahunan terkecil sejak April 2024 dan bulan kedua berturut-turut inflasi berada di bawah target Bank of Japan (BOJ) sebesar 2%.
Melansir Bloomberg, penurunan ini didorong oleh melambatnya kenaikan harga makanan dan efek subsidi bahan bakar pemerintah yang menekan komponen energi turun 7,5% secara tahunan. Harga bensin di Tokyo turun 1% pada Maret, jauh lebih lambat dibanding penurunan 14,7% di Februari, karena dampak pemotongan pajak mulai tergerus oleh lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah. Namun indeks yang mengecualikan makanan segar dan energi, yang lebih diperhatikan BOJ sebagai ukuran tren inflasi, masih naik 2,3%, menandakan tekanan harga dasar belum mereda.
Melansir Reuters, analis memperkirakan perlambatan ini hanya bersifat sementara. Lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz dan pelemahan yen akan mendorong tekanan inflasi naik kembali dalam beberapa bulan ke depan. Masato Koike dari Sompo Institute Plus memperkirakan inflasi inti konsumen akan kembali naik karena tekanan biaya dari konflik Timur Tengah akan menyebar ke berbagai kategori barang, bukan hanya energi. Bahkan survei swasta mencatat produsen makanan besar berencana menaikkan harga 2.798 produk pada April, angka bulanan tertinggi sejak Oktober tahun lalu.
Bagi investor, data ini memperumit kalkulasi BOJ soal waktu kenaikan suku bunga berikutnya. BOJ menahan suku bunga di 0,75% pada rapat Maret, level tertinggi sejak 1995, tapi Gubernur Kazuo Ueda tetap membuka kemungkinan kenaikan pada rapat 27-28 April mendatang. Survei Bloomberg menunjukkan sekitar 37% ekonom memperkirakan kenaikan April, naik dari 17% di survei sebelumnya. Bitcoin bertahan di kisaran US$66.500, masih tertekan di tengah ketidakpastian kebijakan bank sentral global.
Melansir Bloomberg, Reuters