Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dan menghentikan paksa sebuah kapal yang disebut terkait Israel di Selat Hormuz menggunakan drone. Kapal tersebut dilaporkan terbakar setelah serangan. Klaim ini belum dikonfirmasi oleh sumber independen atau pihak Israel, namun jika terbukti benar, ini menambah daftar serangan yang semakin panjang di jalur laut paling vital untuk perdagangan energi global.
Sejak perang dimulai 28 Februari lalu, Iran telah melancarkan lebih dari 21 serangan terkonfirmasi terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. IRGC secara resmi melarang seluruh kapal yang menuju atau dari pelabuhan AS, Israel, dan sekutu mereka melewati selat ini. Pejabat senior IRGC bahkan mengancam akan membakar kapal manapun yang mencoba melintas tanpa izin Iran. Hanya kapal berbendera China, India, Turki, dan sejumlah negara yang dianggap “bersahabat” yang diizinkan melewati selat dengan koordinasi khusus.
Dampaknya terhadap pasokan energi global sudah sangat nyata. Lalu lintas tanker di Selat Hormuz anjlok dari rata-rata 120 kapal per hari sebelum perang menjadi kurang dari 10. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya melewati selat ini setiap hari. Penutupan efektif ini telah disebut sebagai gangguan terbesar terhadap pasokan energi global sejak krisis minyak tahun 1970-an. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan telah melepas cadangan darurat sebesar 400 juta barel minyak mentah untuk menstabilkan pasokan, langkah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.
Harga minyak Brent melonjak dari sekitar US70 per barel sebelum perang ke atas US110 saat ini, kenaikan lebih dari 55% hanya dalam lima minggu. Setiap serangan baru terhadap kapal di selat ini memperkecil peluang normalisasi jalur perdagangan dan memperbesar tekanan inflasi global. Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan perang Iran berisiko memicu inflasi yang akan mempersulit bank sentral AS untuk memangkas suku bunga di 2026.
Bagi pasar kripto, rantai dampaknya langsung. Harga energi yang terus naik mendorong inflasi, menjauhkan pemangkasan suku bunga, dan menekan aset berisiko. Bitcoin masih bergerak di kisaran US66.500 hingga US67.800, sementara arus dana institusional ke kripto sudah anjlok ke US$11 miliar di Q1 2026 menurut data JPMorgan. Selama Selat Hormuz tetap menjadi zona perang, tekanan terhadap pasar global kemungkinan akan terus berlanjut.