Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum genap 48 jam, tapi Lebanon sudah menjadi lubang terbesar yang mengancam seluruh kesepakatan. Israel membom lebih banyak target di Lebanon pada Kamis, memperburuk kondisi gencatan senjata setelah serangan terbesarnya sepanjang perang menewaskan lebih dari 300 orang, melansir Kementerian Kesehatan Lebanon dikutip CNN dan Reuters.
Netanyahu menyatakan Israel bersedia membuka negosiasi langsung dengan Lebanon, tapi dalam kondisi yang membuatnya hampir mustahil berhasil. Seorang pejabat Israel menegaskan bahwa saat ini tidak ada gencatan senjata, dan perundingan akan digelar di bawah serangan yang terus berlanjut. Hizbullah yang sempat menahan diri di hari pertama gencatan senjata akhirnya kembali meluncurkan roket ke wilayah utara Israel.
Perselisihan soal Lebanon kini menjadi bom waktu bagi negosiasi besar AS-Iran yang dijadwalkan akhir pekan ini di Pakistan. Presiden Iran Pezeshkian menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon adalah syarat mutlak bagi kesepakatan negaranya dengan Amerika Serikat, melansir NPR. Sementara AS dan Israel kompak menyatakan Lebanon tidak masuk dalam perjanjian, Iran dan Pakistan selaku mediator menyatakan sebaliknya. Dua narasi yang saling bertentangan ini membuat landasan negosiasi akhir pekan menjadi sangat rapuh.
Di pasar, kebingungan ini langsung tercermin. Harga minyak mentah AS kembali melonjak ke US$100 per barel karena gencatan senjata belum menghasilkan pembukaan penuh Selat Hormuz. Bitcoin ikut tertekan di kisaran US$66.500 karena investor enggan masuk ke aset berisiko selama ketidakpastian kawasan belum selesai. Selama Lebanon masih terbakar dan kedua pihak saling bersikeras soal syarat kesepakatan, pasar tidak akan menemukan alasan kuat untuk pulih.