Pasar obligasi AS mencatat kerugian bulanan terbesar sejak Oktober 2024, sementara Goldman Sachs menaikkan peluang resesi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 30 persen, melansir Bloomberg. Pimco melihat probabilitas lebih tinggi lagi, yaitu lebih dari sepertiga.
Dua raksasa pengelola aset dunia melihat ancaman yang sama: pasar terlalu terpaku pada inflasi dan mengabaikan risiko perlambatan ekonomi yang semakin nyata. Kelsey Berro, manajer portofolio obligasi JPMorgan Asset Management, menyatakan bahwa setiap hari konflik AS dan Iran berlanjut, pasar semakin dekat ke titik di mana dampak negatif terhadap pertumbuhan harus diperhitungkan. Daniel Ivascyn, Chief Investment Officer Pimco yang mengelola aset lebih dari US$2 triliun, menegaskan bahwa guncangan inflasi kerap berubah menjadi guncangan pertumbuhan dengan cepat.
Harga minyak mentah Brent yang sudah melampaui US$110 per barel membuat pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga atau bahkan menaikkannya tahun ini. Pasar sudah sepenuhnya mencoret kemungkinan pemangkasan suku bunga di 2026. Di sisi lain, data tenaga kerja memburuk. AS kehilangan 92.000 pekerjaan di Februari, dan data Maret yang dirilis Jumat ini diperkirakan hanya menambah 60.000 pekerjaan.
Bitcoin berada di kisaran US$66.000 dan S&P 500 sudah masuk fase koreksi. Jika resesi benar terjadi, aset berisiko termasuk kripto berpotensi tertekan lebih dalam. Bagi investor, kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan melambat adalah skenario terburuk, karena aset tidak punya ruang untuk naik dari pelonggaran kebijakan maupun dari pertumbuhan ekonomi.