Di awal tahun, JPMorgan memperkirakan arus dana ke pasar aset digital akan melampaui rekor US$130 miliar yang tercatat sepanjang 2025. Kenyataannya jauh dari ekspektasi. Laporan terbaru tim analis JPMorgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou mencatat total arus dana ke aset digital hanya sekitar US$11 miliar pada kuartal pertama 2026, atau sepertiga dari periode yang sama tahun lalu. Jika laju ini berlanjut, total tahunan hanya akan mencapai sekitar US$44 miliar.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar dari angka US$11 miliar itu bukan datang dari investor baru. Arus dana investor, baik ritel maupun institusional, tercatat kecil atau bahkan negatif sejak awal tahun. Mayoritas dana yang masuk berasal dari pembelian Bitcoin oleh Strategy (sebelumnya MicroStrategy) dan pendanaan modal ventura crypto yang terkonsentrasi di segelintir proyek. Artinya, tanpa pembelian agresif satu perusahaan, gambaran arus dana Q1 akan jauh lebih suram.
Dari sisi futures, positioning di CME melemah signifikan dibanding 2024 dan 2025, mengindikasikan permintaan institusional melalui kontrak berjangka sudah berbalik negatif. ETF Bitcoin dan Ethereum juga mencatat arus keluar di Januari, meskipun ETF Bitcoin mulai pulih dengan arus masuk di Maret. Sementara itu, perusahaan mining Bitcoin yang tercatat di bursa justru menjadi penjual bersih, dengan sebagian mengalihkan daya komputasi mereka ke bisnis kecerdasan buatan.
Konteks makro memperburuk situasi. Perang Iran yang berlangsung sejak akhir Februari menekan selera risiko global, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed terus mundur. Kombinasi ini membuat investor institusional yang sebelumnya diharapkan memimpin arus dana 2026 justru menahan diri. Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$66.500 hingga US$67.800, sementara harga minyak Brent bertahan di atas US$112 per barel.
Bagi investor crypto, data ini menjadi pengingat bahwa momentum pasar tidak bisa bergantung pada satu pembeli besar. Jika arus dana institusional tidak pulih dalam beberapa bulan ke depan, tekanan terhadap harga aset digital kemungkinan akan berlanjut. JPMorgan sendiri menyebut hanya pemulihan kondisi makroekonomi atau pergeseran selera risiko global yang bisa membalikkan tren ini.