Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3 persen ke US$116 per barel pada awal perdagangan Senin setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan mempertimbangkan perebutan Pulau Kharg, pusat ekspor yang menangani lebih dari 90 persen minyak mentah Iran, melansir Bloomberg. WTI turut menguat ke kisaran US$108 per barel.
Trump menyampaikan rencana tersebut dalam wawancara dengan Financial Times pada Minggu (29/3). Ia menyebut ingin “mengambil minyak Iran” dan menyamakan langkah ini dengan pengambilalihan sektor minyak Venezuela. Di lapangan, ribuan pasukan AS sudah bergerak ke kawasan Teluk Persia, termasuk kelompok serbu amfibi dan sebagian Divisi 82nd Airborne. Pentagon dilaporkan mempersiapkan kemungkinan operasi darat.
Pulau Kharg adalah titik kritis pasokan energi global. Jika operasi militer mengganggu ekspor dari pulau ini, analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak melampaui US$130 per barel. Lonjakan sebesar itu akan mempercepat tekanan inflasi global dan memaksa bank sentral, termasuk The Fed, untuk menahan atau menaikkan suku bunga lebih lama dari perkiraan pasar.
Bagi investor, rantai dampaknya sudah terasa. Bitcoin di kisaran US$66.000 dan S&P 500 dalam fase koreksi. Kombinasi minyak mahal, inflasi tinggi, dan suku bunga yang tidak turun menghilangkan dua katalis utama bagi aset berisiko: tidak ada pelonggaran moneter dan tidak ada ruang bagi pertumbuhan ekonomi untuk menopang permintaan. Setiap eskalasi baru di Teluk Persia akan memperdalam tekanan ini.