Saham Nvidia Corp lagi mengalami tekanan jual yang tidak biasa di tengah musim laporan keuangan yang sebenarnya cemerlang untuk sektor kecerdasan buatan. Sejak ditutup di rekor tertinggi pada 27 April 2026, saham Nvidia sudah anjlok 7%, menjadikannya salah satu performer terburuk di indeks semikonduktor Philadelphia. Yang menarik, indeks tersebut justru naik sekitar 9% di periode yang sama, menandakan investor masih bullish terhadap sektor chip secara keseluruhan, hanya tidak ke Nvidia.
Melansir Bloomberg Technoz, penurunan ini bukan karena permintaan AI menurun. Justru sebaliknya, raksasa teknologi seperti Google, Amazon, Microsoft, dan Meta terus janji tingkatkan belanja besar-besaran pada perangkat komputasi AI. Amazon misalnya, baru saja umumkan investasi sekitar Rp2.600 triliun untuk infrastruktur AI di kuartal sebelumnya. Masalah utamanya bukan demand, tapi kekhawatiran investor bahwa cengkeraman Nvidia di pasar prosesor AI mulai terancam.
Ancaman datang dari dua arah. Pertama, dari produsen chip pesaing seperti AMD yang terus tingkatkan kemampuan GPU AI mereka, serta startup chip AI yang mulai dapat traction. Kedua, dan ini yang lebih signifikan, dari pelanggan utama Nvidia sendiri. Google sudah punya Tensor Processing Unit (TPU) yang dipakai untuk training model Gemini. Amazon mengembangkan chip Trainium dan Inferentia untuk infrastruktur AWS. Microsoft punya chip Maia khusus untuk data center Azure. Meta juga punya MTIA untuk training algoritma rekomendasi mereka. Semua perusahaan ini selama ini jadi pembeli terbesar GPU Nvidia, dan kini mereka mulai jadi pesaing langsung.
Strategi Big Tech bikin chip sendiri masuk akal dari sisi bisnis. Pertama, bisa kurangi biaya jangka panjang karena tidak perlu bayar margin gemuk Nvidia yang sering capai 70% lebih. Kedua, beri kontrol lebih atas roadmap teknologi mereka, terutama untuk optimasi spesifik kebutuhan internal. Ketiga, kurangi risiko ketergantungan pada satu vendor di tengah ketidakpastian geopolitik dan rantai pasok global. Buat Nvidia, ini berarti basis pelanggan terbesar mereka pelan-pelan jadi pesaing yang punya akses langsung ke ekosistem mereka sendiri.
Buat investor saham teknologi, momen ini penting untuk dipantau. Nvidia masih jadi pemimpin pasar chip AI dan dominasi mereka tidak akan hilang dalam semalam. Saham Nvidia bahkan sempat naik 2,6% di perdagangan awal Rabu (7/5/2026), menunjukkan masih ada pembeli di level harga rendah. Tapi tren beberapa minggu terakhir mengirim sinyal yang jelas: era monopoli Nvidia di chip AI mulai retak, dan investor mulai diversifikasi taruhan AI mereka ke pemain lain. Buat investor Indonesia yang punya eksposur ke saham Nvidia lewat ETF teknologi global, ini saatnya pantau ulang tesis investasi dan pertimbangkan apakah chip AI tetap jadi tema yang menarik atau perlu rotasi ke sektor lain.