Tujuh negara utama Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan target pasokan minyak sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni 2026. Berdasarkan laporan Bloomberg yang dikutip dari sumber delegasi yang enggan disebutkan namanya, kesepakatan ini secara resmi disahkan dalam konferensi Minggu (3/5/2026), menandai langkah pertama OPEC+ sejak Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari organisasi pada 28 April 2026.
Keluarnya UEA dari OPEC+ menjadi peristiwa historis yang mengguncang struktur kartel minyak global. UEA dilaporkan sudah merasa frustrasi selama bertahun-tahun dengan pembatasan kuota produksi yang menurut mereka tidak mencerminkan kapasitas riil produksi minyak negara tersebut. Dengan keluarnya UEA, konfigurasi OPEC+ kini hanya terdiri dari tujuh negara utama, dengan Arab Saudi dan Rusia tetap menjadi dua pemain dominan yang menentukan arah kebijakan kelompok. Kenaikan kuota 188.000 barel per hari untuk Juni ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari proses pemulihan produksi yang sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu, sebelum perang Iran pecah dan menutup jalur Selat Hormuz.
Yang menarik, Bloomberg menyebut keputusan kenaikan ini sebagian besar bersifat simbolis. OPEC+ tidak akan dapat menerapkan kenaikan kuota tersebut kecuali Selat Hormuz dibuka kembali dan ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia dapat dilanjutkan secara normal. Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, telah ditutup sejak akhir Februari 2026 ketika konflik AS-Israel dengan Iran dimulai. Hingga awal Mei, jalur tersebut masih dalam kondisi blokade, dengan negosiasi damai antara AS dan Iran yang masih buntu sebagaimana ditunjukkan oleh sikap skeptis Presiden Donald Trump terhadap proposal damai 14 poin yang diajukan Tehran.
Konfigurasi baru OPEC+ ini menambah lapisan ketidakpastian struktural di pasar minyak global. Sebelum UEA keluar, kelompok ini sudah menghadapi tantangan besar berupa penutupan Hormuz, sanksi AS terhadap pembeli minyak Iran termasuk pembekuan aset terminal Qingdao Haiye di China, dan friksi geopolitik yang terus berlangsung. Kini dengan keluarnya UEA, dinamika internal OPEC+ akan diuji dalam beberapa bulan ke depan, terutama soal kapasitas Arab Saudi dan Rusia untuk menjaga kohesi dan disiplin kuota di antara negara-negara anggota yang tersisa. Para analis pasar minyak yang dikutip Bloomberg pekan lalu sudah mengantisipasi langkah ini sebagai konsekuensi logis dari kepergian UEA.
Bagi investor dan pelaku pasar Indonesia, dinamika OPEC+ ini punya implikasi konkret ke beberapa kelas aset. Penutupan Selat Hormuz yang sudah berlangsung hampir tiga bulan terus menahan harga Brent crude di kisaran premium, sebuah kondisi yang menambah tekanan ke Rupiah yang sudah lemah terhadap dolar AS. Harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex juga berisiko tetap tinggi atau bahkan naik lagi jika harga minyak global terus tertahan di level tinggi. Inflasi Indonesia yang mulai mereda pasca-Lebaran bisa kembali tertekan jika rambatan harga energi global berlanjut. Sementara itu, aset safe haven seperti emas dan Bitcoin biasanya menjadi tujuan investor saat ketegangan geopolitik energi memuncak, dengan tren yang sama berpotensi berlanjut selama Hormuz masih tertutup dan struktur OPEC+ masih dalam fase adaptasi pasca-UEA. Pertanyaan kunci yang tersisa adalah seberapa cepat AS dan Iran bisa mencapai kesepakatan damai, karena tanpa pembukaan Hormuz, semua keputusan kuota OPEC+ akan tetap menjadi sekadar angka di atas kertas tanpa dampak nyata di pasar.