<

Saatnya Diesel Tumbang! Truk Listrik China Meledak 45% Berkat Perang Iran

China mulai serius tinggalkan diesel. Penjualan truk listrik berat di Negeri Tirai Bambu melesat 45% di kuartal pertama 2026 menjadi 44.000 unit, dan sekarang sudah menyumbang lebih dari seperempat total penjualan truk berat di sana. Padahal tahun lalu di periode yang sama, kontribusi truk listrik masih di bawah 20%. Lonjakan ini jadi salah satu transisi energi tercepat yang pernah terjadi di sektor transportasi berat global.

Melansir Kontan dan Reuters, pemicunya jelas: harga solar yang melonjak akibat perang Iran. Sejak konflik dimulai akhir Februari 2026 dan Selat Hormuz ditutup, harga minyak Brent sempat tembus US$126 per barel. Di China, harga solar domestik ikut naik tajam, dan biaya operasional truk diesel jadi tidak masuk akal lagi. Sementara itu, truk listrik dapat dukungan dari subsidi pemerintah, biaya pengisian energi yang murah, dan infrastruktur charging yang makin luas. “Perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik di China, yang pada akhirnya akan mempercepat penggantian truk konvensional,” kata analis senior S&P Global Mobility, Min Ji.

Tren ini bukan hanya soal angka penjualan. Truk listrik berat di China umumnya punya jarak tempuh sekitar 300 kilometer, cocok untuk perjalanan jarak pendek antara kawasan industri dan pusat logistik. Tapi koridor jarak jauh juga terus diperluas. Produsen seperti Sany bahkan mulai memasarkan truk listrik dengan jarak tempuh hingga 600 kilometer, jauh lebih jauh dari rata-rata saat ini. Penjualan April diperkirakan naik 30% lagi, didorong permintaan musiman dan kenaikan harga minyak yang masih berlanjut.

Buat pasar minyak global, ini sinyal besar yang patut dicermati. China adalah importir minyak terbesar di dunia, dan transisi ini bisa mempercepat puncak permintaan minyak mereka sebelum 2030. GL Consulting memprediksi konsumsi diesel China akan turun 4,3% tahun ini, lebih dalam dari proyeksi sebelum perang sebesar 4,1%. Rystad Energy bahkan lebih agresif dengan prediksi penurunan 5%, dari estimasi awal 4%. Kalau tren ini berlanjut, harga minyak global bisa makin tertekan dalam jangka panjang karena demand structural dari konsumen terbesar dunia mulai melambat.

Buat Indonesia, ini cerita yang patut jadi pelajaran. Industri logistik dan transportasi berat di Indonesia masih sangat bergantung pada solar, dan setiap kenaikan harga minyak global langsung pukul biaya operasional. Sementara di sisi investasi, sektor truk listrik dan baterai EV jadi tema besar yang patut dicermati, terutama untuk emiten yang punya eksposur ke supply chain baterai global seperti nikel. Sebaliknya, emiten energi fosil justru menghadapi tekanan struktural jangka panjang seiring transisi energi global yang makin cepat.

Pelajari Materi Lainnya

Belajar lebih dalam bersama komunitas Tradewithsuli

Komunitas dua arah untuk belajar Cryptocurrency

Contact

Trade With Suli adalah platform edukasi dan komunitas seputar investasi, crypto, dan makroekonomi. Kami tidak menyediakan layanan pinjaman, P2P lending, pengelolaan dana, maupun jasa keuangan berizin. Seluruh informasi yang diberikan bersifat edukasi dan bukan merupakan saran investasi personal. Kami juga tidak pernah menawarkan produk pinjaman, investasi, ataupun profit secara pribadi. Apabila ada pihak yang menghubungi Anda dan mengaku dari Trade With Suli untuk tujuan tersebut, berarti itu adalah pihak yang mengatasnamakan kami.”

PT SOLUSI FINANSIAL MEDIA  ©2026 All rights reserved

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.