Salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia mengejutkan pasar. Dalam earnings call kuartal pertama 2026 pada 5 Mei, Executive Chairman Strategy (MSTR) Michael Saylor membuka kemungkinan menjual sebagian Bitcoin untuk membayar kewajiban dividen perusahaan. Pernyataan ini menjadi pergeseran besar dari sikap “never sell” yang selama bertahun-tahun menjadi mantra Saylor di setiap forum publik.
Pernyataan yang Mengubah Narasi Bertahun-tahun
Dalam earnings call yang dihadiri investor dan analis, Saylor secara terbuka menjelaskan kerangka berpikir baru perusahaan. “We will probably sell some bitcoin to pay a dividend just to inoculate the market and send the message that we did it,” kata Saylor, melansir CoinDesk.
Lebih jauh, Saylor merangkum strategi keuangan Strategy dengan satu kalimat yang langsung menjadi sorotan komunitas crypto global. “You buy bitcoin with credit, you let it appreciate, and then you sell bitcoin to pay the dividend.”
Pernyataan ini terasa kontras dengan posisi Saylor yang sebelumnya. Pada Februari 2026 saja, hanya tiga bulan sebelum earnings call ini, Saylor masih dengan tegas mengatakan kepada CNBC bahwa Strategy tidak akan menjual Bitcoin meski harganya turun hingga US$8.000. Saat itu, ia menjelaskan perusahaan akan memilih untuk merefinansiasi utang ketimbang menyentuh Bitcoin.
Pergeseran ini memperjelas bahwa filosofi “Bitcoin sebagai aset abadi yang tidak akan pernah dijual” mulai dikalibrasi ulang oleh manajemen, terutama ketika perusahaan menghadapi tekanan dari sisi laba dan kewajiban dividen yang terus bertumbuh.
Kondisi Keuangan yang Memaksa Pertimbangan Ulang
Di balik pernyataan tersebut, ada angka-angka yang menjelaskan mengapa Saylor mungkin terpaksa berubah arah. Strategy melaporkan rugi bersih sebesar US$12,5 miliar di kuartal keempat 2025. Sebuah angka yang mencerminkan tekanan dari sisi penilaian Bitcoin yang turun di akhir tahun, sekaligus beban dari struktur keuangan perusahaan yang sangat bergantung pada utang.
Saat ini, Strategy memegang 818.334 BTC dengan harga rata-rata akuisisi US$75.537 per koin. Posisi ini menjadikan Strategy sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia yang tercatat di bursa, jauh melampaui perusahaan-perusahaan lain yang juga mengadopsi Bitcoin sebagai aset cadangan.
Namun di sisi lain neraca, perusahaan menghadapi kewajiban dividen dan bunga utang sekitar US$1,5 miliar per tahun. Berdasarkan cadangan dolar yang dimiliki saat ini, Strategy hanya punya sekitar 18 bulan untuk menutup kewajiban tersebut tanpa harus menggalang dana baru atau menjual aset. Inilah yang membuat opsi menjual Bitcoin menjadi diskusi yang serius di ruang rapat manajemen.
Reaksi Pasar yang Langsung Terasa
Pasar tidak menerima kabar ini dengan tenang. Saham Strategy (MSTR) langsung turun lebih dari 4% di perdagangan after-hours setelah pernyataan tersebut keluar. Harga Bitcoin sendiri ikut tertekan ke level di bawah US$81.000, mencerminkan kekhawatiran investor bahwa pemain besar mulai bersiap untuk eksekusi penjualan.
Yang menarik, platform prediksi Polymarket bahkan langsung memasang probabilitas 48% bahwa Strategy akan benar-benar menjual sebagian Bitcoin sebelum 31 Desember 2026. Angka ini mencerminkan bahwa pasar tidak menganggap pernyataan Saylor sebagai retorika kosong, tetapi sebagai sinyal nyata yang berpotensi terealisasi dalam beberapa bulan ke depan.
Apa Artinya untuk Pasar Bitcoin Secara Keseluruhan?
Dampak dari potensi penjualan Bitcoin oleh Strategy bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Dari sisi suplai, jika Strategy benar menjual sebagian holdingnya untuk menutup dividen US$1,5 miliar dengan harga Bitcoin di kisaran US$81.000, perusahaan akan melepas sekitar 18.500 BTC ke pasar. Jumlah ini setara hanya sekitar 2,3% dari total holding Strategy, namun cukup besar untuk dirasakan likuiditasnya di pasar global.
Dari sisi sentimen, pergeseran ini berpotensi mengubah persepsi institusional terhadap Bitcoin. Selama ini, Strategy menjadi simbol keyakinan korporasi yang absolut terhadap Bitcoin sebagai aset cadangan. Jika perusahaan paling vokal soal “never sell” pun akhirnya mempertimbangkan penjualan, perusahaan-perusahaan lain yang baru masuk ke aset ini mungkin akan lebih hati-hati dalam menyusun strategi treasury mereka.
Namun ada juga sudut pandang sebaliknya. CEO Strategy Phong Le menegaskan perusahaan tetap fokus menjadi net aggregator Bitcoin dalam jangka panjang. Artinya, meski ada penjualan taktis untuk menutup kewajiban tertentu, total holding Bitcoin perusahaan diharapkan tetap bertumbuh seiring waktu. Kerangka ini menempatkan penjualan sebagai bagian dari manajemen kas yang sehat, bukan sebagai capitulation.
Pelajaran untuk Investor Retail
Bagi investor retail di Indonesia, kasus Strategy ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, bahkan investor institusional dengan keyakinan paling kuat sekalipun bisa mengubah posisi ketika kondisi keuangan menuntut. Tidak ada strategi yang benar-benar abadi, semua keputusan investasi tunduk pada realitas arus kas dan kewajiban finansial.
Kedua, leverage atau penggunaan utang untuk membeli aset volatil seperti Bitcoin punya konsekuensi nyata. Strategy mengakumulasi Bitcoin lewat penerbitan utang dan ekuitas, dan kini perusahaan harus memikirkan cara membayar bunga serta dividen dari aset tersebut. Bagi retail yang berinvestasi crypto pakai dana pinjaman, kasus ini menjadi pengingat bahwa risiko tidak hilang hanya karena pelaku pasar lebih besar.
Ketiga, dinamika harga Bitcoin ke depan akan semakin dipengaruhi oleh perilaku pemegang besar seperti Strategy. Setiap pergeseran kebijakan dari pemain ini berpotensi memengaruhi sentimen pasar global, dan investor retail perlu membaca sinyal tersebut dengan hati-hati tanpa panik.