Michael Saylor, Chairman Strategy dan pemegang Bitcoin korporasi terbesar dunia, menyatakan siklus empat tahun Bitcoin “sudah mati.” Dalam posting di X pada Sabtu (4 April 2026), Saylor menulis: Bitcoin sudah menang, konsensus global mengakuinya sebagai modal digital, dan harga kini digerakkan oleh arus modal, bukan halving.
Pernyataan ini menandai pergeseran narasi yang fundamental. Selama lebih dari satu dekade, trader dan investor crypto mengandalkan pola empat tahunan: halving mengurangi pasokan baru Bitcoin, harga rally 12-18 bulan kemudian, lalu koreksi tajam sebelum siklus berikutnya dimulai. Pola ini bekerja pada 2012, 2016, dan 2020. Namun siklus pasca-halving 2024 tidak mengikuti skrip yang sama. Bitcoin yang seharusnya dalam fase rally justru tertekan di US$67.274, dihantam oleh perang Iran, pengetatan likuiditas global, dan ketidakpastian geopolitik.
Saylor berargumen bahwa faktor penggerak harga telah bergeser secara permanen. Bank dan kredit digital, bukan kelangkaan dari halving, yang akan menentukan lintasan pertumbuhan Bitcoin ke depan. Beberapa data mendukung tesisnya. JPMorgan kini menerima Bitcoin sebagai jaminan pinjaman setara emas dan obligasi. Fannie Mae menerima Bitcoin sebagai jaminan KPR pertama kali dalam sejarah AS. ETF Bitcoin spot menarik miliaran dolar arus dana institusional. Dan Kongres AS sedang meloloskan larangan CBDC yang secara eksplisit mengecualikan stablecoin swasta, memperkuat posisi crypto dalam sistem keuangan.
Saylor sendiri berbicara dari posisi yang tidak bisa diabaikan. Strategy membeli 89.599 BTC sepanjang kuartal pertama 2026, membawa total kepemilikan perusahaan mendekati 761.000 BTC, sekitar 76% dari seluruh Bitcoin yang dipegang korporasi di dunia. Ia bukan sekadar berkomentar tentang pasar, ia adalah pasar itu sendiri. Namun Saylor juga memperingatkan bahwa risiko terbesar Bitcoin bukan dari regulasi atau kompetisi eksternal, melainkan dari “ide buruk yang mendorong perubahan protokol yang merusak dari dalam.”
Bagi investor, implikasi dari tesis Saylor cukup besar. Jika siklus empat tahun memang sudah mati, maka strategi “beli setelah halving, jual di puncak siklus” yang selama ini menjadi pedoman tidak lagi relevan. Sebagai gantinya, investor perlu memantau arus dana ETF, kebijakan bank sentral, integrasi perbankan, dan kondisi likuiditas global sebagai indikator utama. Apakah tesis ini benar atau tidak, satu hal yang pasti: Bitcoin pada 2026 adalah aset yang sangat berbeda dari Bitcoin pada 2020.