Harga minyak mentah Brent menuju kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah di kisaran US$116 per barel, sementara WTI bertahan di sekitar US$108, setelah gelombang serangan baru AS dan Israel menghantam Tehran dan kota-kota lain di Iran hari ini, melansir CNBC. Infrastruktur listrik Tehran sempat padam, universitas hancur, dan fasilitas petrokimia di Tabriz terkena serangan. IEA menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.
Presiden AS Donald Trump menyebut “banyak target yang sudah lama dicari telah dihancurkan” lewat unggahan di Truth Social pada Minggu (30/3). Ia juga mengklaim bahwa Iran sudah menyetujui “sebagian besar” dari 15 tuntutan AS yang dikirim lewat mediator Pakistan. Namun Iran secara konsisten membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menegaskan bahwa Tehran hanya meninjau proposal tersebut, bukan menyetujuinya.
Kondisi di lapangan belum menunjukkan tanda deeskalasi. Selat Hormuz masih tertutup untuk sebagian besar kapal dengan transit harian yang anjlok lebih dari 90 persen. Iran terus menembakkan rudal ke Israel dan menyerang fasilitas industri di negara-negara Teluk. Houthi Yaman membuka front baru dengan menyerang Israel. Pentagon bahkan mempersiapkan kemungkinan operasi darat berminggu-minggu di wilayah Iran.
Bitcoin di kisaran US$66.000 dan S&P 500 dalam fase koreksi. Kontras antara klaim diplomatik dan eskalasi militer di lapangan menciptakan ketidakpastian yang sulit dikalkulasi pasar. Jika negosiasi benar-benar mengarah ke gencatan senjata, harga minyak bisa terkoreksi tajam dan memberi ruang bagi aset berisiko untuk pulih. Tapi jika eskalasi berlanjut dan operasi darat terealisasi, tekanan terhadap seluruh kelas aset akan semakin dalam. Bagi investor, skenario ini menuntut kewaspadaan tinggi karena pergerakan besar ke salah satu arah bisa terjadi dalam hitungan hari.