Hubungan Amerika Serikat dan NATO kini berada di titik paling tegang dalam sejarah aliansi tersebut. Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap NATO dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 6 April 2026, dan mengungkap bahwa akar persoalannya bermula dari sengketa Greenland. Melansir Bloomberg, Trump menyebut NATO sebagai “macan kertas” dan menegaskan bahwa kekecewaannya terhadap aliansi tersebut sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
Trump secara eksplisit menghubungkan sengketa Greenland sebagai titik awal retaknya hubungan AS dengan NATO. “Semuanya berawal dari Greenland. Kami ingin Greenland. Mereka tidak mau memberikannya. Dan saya bilang, selamat tinggal,” ujar Trump dalam konferensi pers tersebut. Pernyataan ini menjadi yang paling keras dari Trump terhadap aliansi yang sudah berdiri lebih dari tujuh dekade.
Konflik Iran memperdalam retakan tersebut. Beberapa negara Eropa, termasuk Spanyol, menolak memberikan akses pangkalan dan wilayah udara kepada AS selama operasi militer berlangsung, melansir CNN. Tidak ada satu pun negara NATO yang mengirimkan kapal perang untuk mengamankan Selat Hormuz, sesuatu yang Trump sebut sebagai pengkhianatan terhadap semangat aliansi. Bagi Washington, perang Iran menjadi ujian nyata solidaritas NATO, dan hasilnya mengecewakan.
Dampaknya tidak berhenti di meja diplomatik. Melemahnya aliansi Barat berpotensi menekan dolar AS yang selama ini kuat karena posisi AS sebagai pemimpin keamanan global. Aset safe haven seperti emas dan Bitcoin secara historis cenderung menguat di tengah ketidakpastian geopolitik skala besar semacam ini. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan bertemu Trump di Washington, tapi dengan pernyataan sepanas ini, negosiasi yang menentukan nasib aliansi militer terbesar di dunia tersebut berjalan di atas kawat yang sangat tipis.